Renungan akhir zaman
Bismillah…

Aktivitas diakhir semester seakan menyita seluruh waktuku untuk terfokus pada tugas akhir dan perkuliahanku. Raga yang seringkali lalai dalam menjawab panggilannya, lisan yang seringkali melukai sesama dan perbuatan yang tak pernah luput dari kesalahan.
Kelalaian-kelalaian bagaikan deras air yang mengaliri sungai-sungai, tak henti dan tek terbendung hingga kini. Aku tak sebaik, seperti yang orang pikirkan. Aku hanyalah seorang biasa yang ingin belajr dan mendapatkan peningkatan dalam relasiku dengan penciptaku. Aku adalah manusia yang berlumuran dosa.
Beberapa hari lalu handphone ini mendapatkan pesan dari seorang kawan, sebuah pesan singkat yang berisikan bahan perenungan yang sangat tepat jika diresapi dan menjadi koreksi pribadi bagi kehidupan ini. isi pesannya adalah sebagai berikut:
Aku kuatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tek berbekas dalam perbuatan
Banyak orang baik tapi tidak berakal,
Ada orang berakal tapi tidak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai,
Ada yang khusuk tapi sibuk dalan kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat tapi bagai sufi,
Ada yang banyak tertawa tapi hatinya berkarat,
Ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat,
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,
Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut,
Ada yang berlisan bijak namun tak memberi teladan,
Ada pezina yang tampil menjadi figur,
Ada yang berilmu tapi tak faham,
Ada yang faham tapi tak menjalankan,
Ada yang pintar tapi membodohi,
Ada yang bodoh tak tau diri,
Ada yang beragama tapi tak berahlak,
Ada yang berahlak tapi tak bertuhan,
Lalu diantara semua itu dimanakah aku berada?(imam ali bin abi thalib)
Seusai membaca pesan ini, hati dan pikiran ini seakan merasakan bahwa fakta inilah yang terjadi dalam kehidupanku. Bagai sebuah cermin yang mewakili representasi dari disi sendiri. Seringkali hati ini tersadar akan perilaku dan hal-hal negatif yang memang itu adalah sebuah kesalahan, namun entah mengapa hal itu masih saja dilakukan.
Masih pantaskan aku disebut sebagai orang yang beriman?
masih pantaskah aku menjadi seseorang yang akan diberikan safa’at dihari akhir kelak?
Posted on Januari 9, 2011, in islamic zone. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

mungkin nggak nyambung, tapi sekedar mw cerita aja. Tw nggak kenapa orang non Muslim kalo berdoa, wajahx terlihat sangat damai, sedangkan orang Muslim tidak ? cenderung serius.
-> Karena kita kebanyakan meminta dan memohon ampun (misal : sudah sehat, masih minta kesehatan lagi. Bersyukurnya nggak ada). Sedangkan, orang Non Muslim doax kebanyakan syukur —> aku belajar dari temenku yg non Muslim
Terus, apa sich yang bikin orang Non Muslim sangat memuja, mencintai, dan yakin dengan Tuhannya ?
-> Karena konsep pemikirannya, “segala sesuatu yang dikerjakan harus bisa bikin Tuhannya seneng” (kalimat positif). Jadix, pemikirannya “bagaimana caranya agar Tuhan senang”
Sedangkan, Islam, “jangan sampai Tuhan murka ke kita”. (kalimat negatif) Jadinya, cenderung ketakutan.
Salah nggak sich aku bilang gini ? Ini berdasarkan pengamatanku terhadap temen2ku yang non Muslim…
Pendapat itu ngak ada yang salah, semuanya adalah benar.
Dari beberapa objek yang pernah saya temui memang pernah ada pemikiran seperti itu. Namun setelah semakin banyak objek yang diteliti, ternyata semua berasal dari lingkungan, baik lingkungan sosial dan keluarga.
Mungkin pendapat hapver muncul karena membandingkan antara banyaknya orang yang beragama islam(termasuk islam KTP) dengan sebagian kaum minoritas(non muslim).
Menurut saya orang tua adalah pembangun fondasi akidah dan ahlak anaknya.
sebuah tulisan yang menjadi refleksi bagi diri masing – masing.
Pesan Imam Ali Bin ABi Thalib lebih kepada renungan diri kita sendiri terhadap hubungan kita dengan Allah SWT, bagaimana kita dapat terus memperbaiki diri, bukan dalam hal men-judge diri sendiri.
Rahmat Allah SWT tak akan pernah putus…
Terimakasi bang henri.
semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran untuk selalu menjadi lebih baik.
Perenungan yang baik di dalam menyikapi segala rintangan yang sedang dihadapi,smoga masih ada pintu memperbaiki diri
yupZ.. amin
Merenung itu adalah pilihan, kadang orang tidak mau merenung dikarenakan takut teringat masa lalu yang kelam.
sesungguhnya yang terpenting itu adalah dalam mengambil hikmah dari segala hal yang terjadi
Izin copas gan!
monggo kang
refleksi tulisan lamaku yang menjadi pembelajaran untuk kita.
Ping-balik: Renungan akhir zaman (via Just take It Simple) « Armanketigabelas